Monday, 30 November 2015

Filled Under:

Sarjana Jadi Ibu Rumah Tangga? Why Not?

Ketika seorang perempuan yang sudah bergelar sarjana memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, biasanya akan mendapatkan protes dari orang tuanya. Para orang tua biasanya menganggap bahwa keputusan menjadi ibu rumah tangga adalah hal yang salah karena sama saja dengan menyia-nyiakan gelar sarjana yang dimiliki. Benarkah demikian?

Sebenarnya menurut pendapat saya pribadi, tidak ada salahnya seorang sarjana menjadi ibu rumah tangga. Toh pendidikan di bangku kuliah bukan hanya sekedar untuk mendapatkan gelar sarjana dan bekerja di suatu perusahaan. Dengan kuliah, tentu saja akan memberikan seorang ibu wawasan dan membentuk pola pikir yang lebih baik lagi guna mendidik anaknya nanti.

Bahkan seorang ibu rumah tangga yang bergelar sarjana sebenarnya akan sangat bagus karena anaknya akan langsung dididik oleh wanita yang berpendidikan. Perkembangan sang anak tentu saja akan lebih terjamin, dibandingkan seorang anak yang dididik oleh seorang pembantu yang hanya tamatan SD atau mungkin tidak sekolah sama sekali. Kecuali jika sang ibu masih bisa membagi waktu antara pekerjaan dengan mengurus anaknya.


Sebenarnya masih ada alternatif lain jika orang tua masih keberatan dengan keputusan perempuan bergelar sarjana yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Dia bisa saja mengambil alternatif menjadi seorang pengusaha yang dapat mengendalikan usahanya dari rumah. Sehingga sang anak tetap terurus, dan penghasilan tambahan pun tetap didapatkan.

Menurut saya, pendidikan di bangku kuliah seharusnya jangan dijadikan alasan untuk malu menjadi ibu rumah tangga. Menjadi ibu rumah tangga dan lebih memilih untuk mendidik anak secara full-time adalah pilihan yang mulia.

0 comments:

Post a comment