Saturday, 24 September 2016

Filled Under: ,

Fakta Tentang Dunia Kuliah dan Dunia Kerja di Indonesia

Dunia kerja itu semakin berat kompetisinya. Dan dunia kerja semakin membingungkan karena "unsur keberuntungan" dan "unsur kekerabatan" bermain di sana. Jadi, orang kalau hanya "modal pintar dan ijasah" itu nggak cukup buat memasuki dunia kerja.

Mau jadi pejabat daerah, nggak kenal orang dalam? "Ngimpi Loe...?" Mana bisa masuk, kecuali lagi beruntung. Minimal kamu kalau mau jadi pejabat kudu kenal kepala bidang ini, kepala bidang itu, atau malah Bupatinya sekalian.



Jangankan di dunia kerja, "sistem budaya kekerabatan" mulai tersulut apinya semenjak kamu masuk kuliah. Sudahlah nggak perlu ditutup-tutupi, berapa ratus juta sudah dikeluarkan hanya demi bisa masuk Fakultas Kedokteran? Mungkin sekitar 300 juta. Berapa puluh juta masuk Fakultas Ekonomi? Mungkin sekitar 30 juta. Dan untuk masuk fakultas hukum barangkali sekitar 20 juta.

Maaf, agak kasar, "brengsek" sekali kan sistem kekerabatan ini? Uang yan besarnya "jut-juta" itu masuk ke kantong pejabat kampus. Iya lah! Masa masuknya ke kantong negara.

Kuliah bayar. Kerja bayar. Bagaimana pikirannya nggak korupsi terus? Pikirannya ketika seseorang sudah kerja ya buat balikin uang "jut-juta" yang udah dikeluarkan selama ini. Entah bagaimana caranya kudu balik modalnya.

Itulah sekelumit wacana untuk membuka artikel ini. Intinya, baik dunia kerja maupun dunia kampus itu mengerikan. Bikin otak mau meledak. Hidup itu untuk dinikmati, dijalani dengan damai dan penuh cita-cita positif. Kalau jalan hidup di negara-bangsa Indonesia ini selalu begitu, bagaimana akan terlahir manusia bijaksana?

Manusia bijaksana, yang mampu menjunjung tinggi moral dalam tindakannya tidaklah banyak. Mereka jumlahnya sedikit karena mayoritas orang memang dididik dalam kultur kotor seperti yang telah dipaparkan di atas.

Maka menjadi kecil kemungkinannya mengharap dunia kerja dan dunia kuliah bisa menghadirkan bibit-bibit unggul untuk memimpin negara ini. Bibit unggul hanya bisa dihitung dengan jari. Mereka yang benar-benar sanggup menjunjung kepentingan publik, di atas kepentingan privat.

Mereka yang benar-benar bisa dipercaya untuk mengayomi masyarakat. Bukankah tujuan dari kuliah dan kerja sebenarnya memang untuk membentuk karakter kepemimpinan seperti ini? Kalau untuk bersikap jujur saja tidak bisa, bagaimana akan memegang amanah besar, memimpin rakyat? Jujur dimulai dari hal-hal yang menyangkut diri sendiri.

0 comments:

Post a comment