Friday, 30 November 2018

Filled Under:

Orang Miskin Jangan Jadi Dokter

KerjaKuliah - Sudah menjadi rahasia umum bahwa biaya pendidikan untuk menjadi dokter sangatlah mahal jika dibandingkan dengan profesi lain. Tidak hanya biaya kuliahnya saja yang mahal, bahkan masih ada biaya lainnya yang juga mahal, yaitu biaya untuk membeli buku kedokteran yang tebal, biaya praktik, biaya ujian, dan lain-lain.

Contohnya uang masuk untuk kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) yang bahkan bisa mencapai hingga Rp 200 juta melalui jalur mandiri. Bagaimana mungkin orang miskin mampu membayar biaya kuliah sebanyak itu?

Memang untuk jalur reguler (SNMPTN atau SBMPTN) terbilang relatif lebih murah, yaitu sekitar Rp 23 juta per semester. Namun tetap saja uang sebanyak itu bukanlah sedikit buat orang miskin. Buat makan saja susah, gimana mau bayar Rp 23 juta per semester.


Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga mematok uang masuk yang tinggi, yaitu hingga mencapai Rp 175 juta–Rp 200 juta. Dan per semesternya masih harus membayar sebesar Rp 6 juta–Rp 15 juta. Mahal juga bukan?

Universitas Islam Malang (Unisma) bahkan mencapai Rp 275 juta untuk uang masuknya. Belum lagi biaya per semesternya yang mencapai Rp 20 juta.

Menurut seorang dosen UB, jarang memang ada orang yang miskin kuliah di kedokteran. Rata-rata orang yang kuliah disana adalah orang yang punya.

Menurut Rektor UMM, Drs H Fauzan MPd, biaya masuk Rp 175 juta–Rp 200 juta dan biaya semesteran Rp 17 juta–Rp 20 juta relatif terjangkau. Namun bagaimana dengan orang miskin? Terjangkau juga?

”Relatif terjangkau untuk kedokteran,” kata Rektor UMM.

Menurut Wakil Rektor III Unisma, Dr Ir Badat Muwakhid MP, FK di kampusnya menerapkan standar yang ketat. Hanya sekitar 100 saja kuotanya. Apa maksudnya dengan standar yang ketat? Kemampuan akademis yang baik? Atau justru kemampuan ekonomi yang baik? Kalau miskin tidak boleh jadi dokter?

0 comments:

Post a comment