Wednesday, 24 August 2016

Filled Under:

4 Paradoks di Balik Demonstrasi Mahasiswa Menuntut Sistem UKT (Uang Kuliah Tunggal)

Seringkali terdengar berita tentang demonstrasi mahasiswa menuntut UKT. Ya, UKT, sebuah sistem pembayaran uang kuliah tunggal, di mana seluruh komponen biaya kuliah dijadikan satu, dan dibayar dalam sekali waktu, pada awal semester. Sama sekali tidak ada biaya-biaya administrasi perkuliahan lain. Pokoknya hanya sekali saja, di awal.

Sebenarnya sistem ini menguntungkan mahasiswa karena secara teknis mahasiswa bisa melakukan kalkulasi dan prediksi terstruktur mengenai berapa biaya yang dibutuhkan untuk perkuliahan dalam rentang waktu 1-8 semester normalnya. Tapi sayangnya sistem ini pada sebagian mahasiswa dirasa memberatkan karena seolah tidak bisa dicicil. Harus benar-benar dibayarkan penuh di awal, atau sama sekali tak boleh ikut perkuliahan.

Kelebihan sistem UKT adalah soal efisiensi budget perencanaan kuliah. Sedangkan kelemahannya adalah transparansi dalam penyusunan poin-poin biaya. Kelemahan inilah yang kerap diprotes mahasiswa. Bagaimana bisa muncul total jumlah UKT segini, bagaimana perincian biayanya terkadang pihak kampus tidak mau transparan.



Dan kelemahan lain juga ada pada hirarkinya. Sistem UKT yang merupakan produk kebijakan DIKTI ini menentukan besaran nilai UKT berdasarkan hirarki ekonomi mahasiswa. Mahasiswa dengan tingkat ekonomi rendah akan membayar UKT rendah, sedangkan mahasiswa dengan tingkat UKT tinggi akan membayar tinggi.

Dan ini dianggap adil-adil saja menurut sistem ini. Meskipun jika dipikir saksama, mengapa pemerintah tidak memberikan biaya pendidikan pendidikan tinggi yang setara saja, mau kaya mau miskin setara saja. Dan dipatok pada total biaya menengah. Tentulah ini hanya pemerintah yang paham.

Di balik segala macam aksi demonstrasi mahasiswa soal UKT, terdapat 4 paradoks yang terjadi. Yaitu:

1. Demonstrasi mahasiswa menuntut Sistem UKT (dalam hal pencabutan maupun penurunan biaya) terjadi karena mahasiswa menekan pihak birokrasi yang dinilai korup dalam perencanaan anggaran UKT. Terkait rincian biayanya, terlalu digemukkan oleh komponen-komponen tidak perlu.

2. Demonstrasi mahasiswa menuntut UKT terjadi karena mahasiswa enggan membayar mahal UKT, di mana penyaluran uang ini dianggap tidak jelas ke mana saja.

3. Demonstrasi mahasiswa menuntut UKT terjadi karena mahasiswa hanya berpikir soal pengiritan biaya saja. Lumayan kan kalau UKT turun, sisa uangnya yang harusnya dibayarkan bisa untuk hal lain.

4. Demonstrasi mahasiswa menuntut UKT tidak benar-benar dijalankan oleh mahasiswa miskin. Kebanyakan yang melakukan aksi adalah mahasiswa yang memiliki tingkat ekonomi tinggi. Mengapa? Sebab mahasiswa miskin biasanya dapat beasiswa, dengan catatan dia berprestasi.

0 comments:

Post a Comment