Monday, 22 August 2016

Filled Under:

Pengusaha Muda Thailand Di Balik Suksesnya Rumput Laut Tao Kae Noi

Mahal, Enak, Cepat Habis, dan Bikin Ketagihan.... Itulah 4 sensasi bila anda coba menyantap snack rumput laut bermerek Tao Kae Noi. Tidak sulit untuk mendapatkan snack rumput laut yang satu ini karena di semua supermarket dan minimarket ada. Harganya beragam, sesuai dengan varian ukuran dan rasanya. Untuk varian kecil dihargai antara Rp4500-Rp6000/pcs, sedangkan varian besar kurang lebih Rp17.000/pcs.
 
Untuk mereka yang sudah terlanjur kecanduan, membeli Tao Kae Noi tidaklah masalah harganya mahal. Karena memang rasanya gurih dan lezat sekali. Tapi bila yang kecanduan adalah orang yang ekonomi pas-pas-an atau sekelas mahasiswa, sungguh bisa berbahaya mengancam dompet bila membeli Tao Kae Noi tiap hari.



Beberapa tahun yang lalu, tepatnya 2011 muncul sebuah film Thailand bertajuk The Billionaire. Film ini menceritakan tentang kisah nyata pengusaha muda Thailand di balik suksesnya rumput laut Tao Kae Noi. Bila anda sudah menonton filmnya, maka anda akan sangat salut pada tokoh utama bernama TOP yang banting tulang berwirausaha setelah dirinya gagal mengikuti perkuliahan. Top sebenarnya adalah representasi dari tokoh asli pemilik merek dagang Tao Kae Noi, yaitu: Ittipat yang biasa dipanggil Tob.

Di balik suksesnya rumput laut renyah ini ternyata ada perjuangan mati-matiian Ittipat. Mulai dari menemukan teknik memasak rumput laut yang baik agar tidak pahit, teknik pengemasan rumput laut agar tidak mudah basi dan melempem, serta teknik memasarkannya. Di dalam film diceritakan bahwa Ittipat bisa mencapai kesuksesan berkat kerjasamanya dengan 7Eleven, yaitu: toko kelontong waralaba yang jaringannya sudah mengglobal, ada di 18-an negara, dengan jumlah gerai sekitar 26.000 toko kelontong. Bisa bayangkan betapa kayanya Ittipat?

Sejak produk Tao Kae Noi masuk ke Indonesia, mulai ramai diperbincangkan tentang kandungannya. Karena produk ini disinyalir haram karena mengandung pengemulsi hewani dari babi. Dulu di bungkus Tao Kae Noi tertera label halal MUI, tapi entah kenapa label itu langsung ditutupi bahkan hilang. Banyak kabar beredar bahwa produk ini tidak lagi mendapatkan ijin edar halal karena terbukti menggunakan pengemulsi babi.

Namun anehnya, sejak buruknya citra Tao Kae Noi di mata masyarakat, ternyata pasar snack Indonesia malah dibanjiri produk sejenis. Kini banyak ditemukan snack-snack rumput laut demikian, baik pabrikan lokal maupun produk impor. Hal ini sebenarnya bisa menjadi ciri permainan perdagangan bebas. Merek Tao Kae Noi dimatikan agar merek lain mampu bersaing.


0 comments:

Post a Comment