Thursday, 8 September 2016

Filled Under:

5 Hal yang Harus Diperhatikan Bila Kamu Membangun Bisnis StartUp

Bisnis StartUp sedang booming akhir-akhir ini. Bisnis ini menarik banyak orang untuk terjun ke dalamnya. Terutama mereka yang memiliki background penggiat IT. Karena memang StartUp dipandangnya sebagai bisnis yang berhubungan dengan IT. Padahal tidak begitu juga.

Defisini sederhana dari StartUp adalah sebuah perusahaan rintisan di segala bidang. Perusahaan ini akan terus disebut StartUp selama penggiatnya belum mampu menemukan model manajemen bisnis terbaiknya. StartUp adalah sebuah usaha yang dilakukan oleh perusahaan untuk menemukan bentuk terbaiknya.



Perjalanan menemukan bentuk terbaik ini akan cukup lama. Di mana dalam proses ini perusahaan juga berusaha membangun tim yang tangguh, cerdas, dan solid. Sebuah tim kerja yang benar-benar mampu menopang sistem. Masing-masing individu dalam tim menjadi bibit unggulan yang keberadaannya sangat penting untuk keberlanjutan hidup StartUp.

Meskipun kelihatannya tidak ada bedanya dengan bisnis lain. StartUp sebenarnya memiliki ciri prinsipil bahwa perusahaan ini benar-benar bergerak di atas sistem informasi terstruktur. Tiap rencana dan pergerakan digalakkan semata-mata dalam usaha revolusi StartUp menjadi perusahaan mapan, berbadan hukum.

Dalam teorinya, StartUp akan berakhir ketika ia berbadan hukum. Maksudnya, ketika sebuah perusahaan menyatakan diri sebagai perseroan terbatas atau persekutuan komanditer, maka perusahaan itu sudah tidak layak disebut StartUp.

Membangun StartUp tidaklah mudah. Banyak hal-hal yang harus diperhatikan bila kamu membangun bisnis Start Up, seperti:

  1. Setiap bentuk usaha selalu membutuhkan kantor. Begitupun StartUp, meskipun masih perusahaan rintisan. Kantor StartUp harus jelas ada di mana. Harus nyata alamatnya, bukan fiktif.
  2. Setiap bentuk usaha juga membutuhkan karyawan. Meskipun perusahaan baru merintis. Karyawannya juga harus nyata, tak boleh fiktif. Terkadang banyak kasus di mana StartUp ternyata fiktif karyawannya.
  3. Pilihlah karyawan yang hanya diperlukan untuk menunjang sistem. Pilihlah karyawan yang skill-nya memang cocok bergabung dalam StartUp.
  4. Jangan pernah sekalipun melalaikan tugas menggaji karyawan. Meskipun perusahaan masih miskin, jangan pernah mengajak karyawan untuk berkorban demi sistem. Karena biar bagaimana pun kinerja sangat membutuhkan imbalan.
  5. Ingatlah selalu bahwa ini StartUp, artinya manajemen sedang belajar untuk revolusioner. Tiap manuver bisnis adalah metamorfosa menuju kesempurnaan bentuk bisnis. Jadi jangan mudah puas, meskipun StartUp sudah mapan dan kaya. Tunggu hingga metamorfosa sempurna bentuknya.

0 comments:

Post a Comment