Thursday, 15 September 2016

Filled Under:

Penerbit Buku Indie Menjamur, Banyak Penulis Jadi Mujur

Penerbit Buku Indie banyak menjamur. Kira-kira wabahnya sejak tahun 2009. Mereka paling banyak gunakan jejaring sosial Facebook sebagai media promosi.  Penerbit Indie hadir sebagai sebuah solusi penerbitan karya yang tidak berbelit prosesnya.

Lewat penerbit Indie, seorang penulis pemula bisa menyalurkan karyanya, tanpa "DITOLAK" sebagaimana kalau dia memasukkan karyanya ke meja redaksi penerbit mayor. Maka dari itu, dapat dikatakan keberadaan penerbit buku indie itu bikin penulis jadi mujur.



Untuk menerbitkan buku secara indie, seorang penulis hanya diwajibkan membayar biaya sekian ribu hingga jutaan rupiah, untuk proses desain layout, sampul, editing, dan cetak. Penulis biasanya akan mendapatkan bukti beberapa eksemplar.

Sebagaimana di penerbit mayor. Penerbit Indie juga menerapkan sistem royalti sebesar 20-25% dari hasil penjualan kepada para penulis. Royalti ini akan dibayarkan per bulan. Penulis akan banyak mendapatkan banyak uang bila ia rajin menjual bukunya sendiri.

Karena perbedaan mendasar antara penerbit buku indie dengan penerbit buku mayor adalah penerbit indie mengharuskan penulis pandai melakukan marketing atas karya bukunya sendiri. Pihak penerbit Indie tidak gencar melakukan promosi. Hanya membantu sepantasnya.

Perbedaan mendasar lain adalah penerbit Indie biasanya menjajakan bukunya hanya melalui sosial media. Penjualan dilakukan secara online dengan sistem POD (Print on Demand). Jadi buku karyamu dicetak hanya jika ada pesanan. Sistem POD memungkinkan untuk cetak buku hanya satu eksemplar saja.

Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh penulis agar mujur menerbitkan bukunya di penerbit Indie yang sedang menjamur:

  1. Siapkan sebuah karya tulis terbaik yang layak untuk ditebitkan.
  2. Siapkan sejumlah uang untuk mendaftarkan karyamu ke penerbit indie. Uang ini akan dipakai untuk biaya proses pencetakan bukumu dari desain hingga terbit.
  3. Ketika karyamu masih dalam proses, sebaiknya lakukan promosi dulu ke teman-temanmu lewat sosial media dengan cara membuka PRE-ORDER. Harapannya, bukumu akan semakin laris karena teman-temanmu diberi aba-aba untuk membeli sebelum masa cetak habis. Harga buku Pre-Order biasanya lebih murah 5 hingga 10%.
  4. Ketika buku sudah terbit. Jangan lupa melakukan promosi segencar mungkin. Bisa dibingkai dalam kegiatan seminar kecil-kecilan.
  5. Jika kamu penulis dengan budget besar, bisa ikut program penerbitan indie skala mayor. Maksudnya, bukumu akan dicetak banyak dan didistribusikan ke toko buku. Biasanya program ini memakan biaya mahal. Tapi kamu akan puas karena karyamu benar-benar akan nongkrong di rak buku seperti gramedia, tanpa perlu melewati kejamnya meja redaksi penerbit mayor.

1 comments:

  1. Setuju.
    tapi semua balik lagi ke pnulisnya.

    http://www.sastrawacana.com/2017/02/simak-perbedaan-penerbit-mayor-dengan.html

    ReplyDelete