Saturday, 17 September 2016

Filled Under: ,

Teknik Sampling dalam Penelitian Opini Publik, Untuk Kalian Petugas Survei

Teknik sampling di dunia mengalami dinamika. Setidaknya ada 3 babak sampling yang dikenal, yaitu:

Era Straw Vote: teknik ini berusaha mengambil sebanyak-banyaknya responden dalam penelitian. Ukuran kualitas dari penelitian adalah banyaknya pendapat responden yang berhasil dikumpulkan.

Era Sampel Kuota: teknik ini berusaha membuat klasifikasi atas populasi berdasarkan sejumlah karakteristik, seperti: jenis kelamin, tempat tinggal, dan ras. Pengambilan sampel dalam teknik ini harus benar-benar mencerminkan ciri populasi, hingga biasanya dibutuhkan data dari sensus penduduk. Misalnya dalam suatu negara bagian, jumlah penduduk berpendidikan rendah adalah 30%, maka peneliti harus mengambil sampel mendekati jumlah itu

Era Sampel Modern/Probabilitas: teknik ini hadir memperbaiki kelemahan dalam Sampel Kuota. Pada Sampel Modern, anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi reponden karena pengambilan sampel dilakukan secara acak. Tidak seperti sampel kuota, di mana subjektivitas peneliti dalam memilih responden turut bermain. Pengambilan sampel secara acaknya mengikuti hukum probabilitas.




Di Indonesia, teknik penjaringan opini publik (sampling) populer dilakukan dengan jalan survei atau yang dikenal pula sebagai jajak pendapat. Pada tiap-tiap pesta demokrasi (pemilu) selalu banyak lembaga survei yang turut serta memprediksi siapa partai atau kandidat pemenang pemilu. Sampling oleh lembaga survei di Indonesia mengikuti kaidah hukum probabilitas, sehingga tergolong sebagai sampel modern.

Penarikan sampel dalam survei menjadi pokok penting yang harus dilakukan secara hati-hati, penuh pertimbangan. Hingga kadang disebut bahwa yang mahal dari sebuah survei adalah pada sampelnya, sebab sampel=hasil penelitian. Ada poin-poin penting dalam penarikan sampel survei, yaitu:

Tujuan Survei


Sampel yang diambil harus sesuai dengan tujuan survei, apakah untuk mengeksplorasi masalah atau menjelaskan hubungan sebab-akibat. Terdapat 3 bentuk survei berdasarkan atas tujuannya, yakni:

Survei Eksplorasi: untuk mengungkap persoalan yang sebelumnya tidak diketahui. Kerap disebut pula survei penjajakan. Contoh: Survei ICW mengenai Manajemen Berbasis Sekolah untuk mengevaluasi keberhasilan atau kegagalan proyek Manajemen Berbasis Sekolah yang dikeluarkan pemerintah sejak tahun 2000.

Survei Deskripsi: untuk melakukan generalisasi. Menggambarkan seakurat mungkin fenomena. Tugas peneliti adalah membuat sketsa fenomena. Makin mirip sketsa dengan kenyataan, maka surveinya akurat. Contoh: Survei International Republican Institute (IRI) sebuah lembaga asal Amerika, tentang kecenderungan isu-isu penting bagi pemilih di Indonesia.

Survei Analistis: untuk menggambarkan masalah, menjelaskan masalah, dan menjelaskan hubungan antar faktor penyebab masalah. Contoh: survei yang dilakukan oleh R. William Liddle dan Saiful Mujani tentang perilaku pemilih di Indonesia. Ada beberapa faktor yang diuji dalam survei ini, antara lain: agama, wilayah, etnis, kedekatan dengan partai, kelas, pekerjaan.

0 comments:

Post a Comment