Sunday, 4 September 2016

Filled Under:

Transmigrasi? Why Not? Ini Taktik Jitu Untuk Mandiri Kerja Bagi Pasutri Muda

Menikah muda memang sedang tren belakangan ini. Banyak bermunculan pasutri muda, terutama yang tinggal di pedesaan. Sayangnya, komitmen menikah muda tidak disertai dengan kesiapan diri menanggung beban bahtera ekonomi rumah tungga.

Terpaan ekonomi  berkepanjangan pada akhirnya membuat rumah tangga retak. Tidak ada lagi romantisme di antara pasutri. Yang ada hanya konflik dan konflik tiada ujung. Lebih parah lagi kalau pasutri sudah dikaruniai anak, maka perangainya akan semakin buruk biasanya. Karena repot dan bingung bagaimana harus hidupi anak, di saat makan sehari-hari saja susah.



Ujung dari permasalahan tersebut adalah perceraian. Rumah tangga hancur, anak terlantar. Dipikirnya lebih baik cerai dan hidup sendiri-sendiri saja. Dan hak asuh anak akan diperebutkan. Atau malah sama sekali saling melempar hak asuh karena merasa beban ekonomi mengurus anak sangat tinggi.

Ujung-ujungnya, si anak akan dititipkan pada orang tua dari pihak suami atau istri. Sedangkan pasutri yang telah cerai itu akan sibuk bekerja dan memulai hidup baru. Padahal, menitipkan anak pada orang tua, di saat diri kita malah asyik sibuk bekerja hukumnya dosa. Sebagaimana kata Mamah Dedeh pada acara televisinya.

Lantas, bagaimana kah cara hadapi masalah rumah tangga karena faktor ekonomi yang kerap menerpa pasutri muda ini? Ternyata salah satu taktik jitunya adalah dengan ikut program Transmigrasi. Yaitu perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat, dengan segala biaya dan kebutuhan hidup selama satu tahun akan ditanggung oleh negara.

Program transmigrasi sangat cocok untuk pasutri muda karena program ini selalu membutuhkan bibit-bibit unggulan yang masih enerjik dalam bekerja dan berkarya. Transmigrasi siap untuk menampung aspirasi pasutri muda untuk hidup mandiri segalanya.

Meskipun harus pindah ke daerah pelosok. Transmigrasi ini tetaplah program yang sangat baik. Karena pemerintah bertanggungjawab atas hidup transmigran selama satu tahun penuh. Pemerintah memberikan fasilitas rumah, air bersih, dan lahan (kebun) untuk digarap. Pengadaan bibit juga dibantu oleh pemerintah.

Unik dan asyiknya, bila transmigran sanggup survive selama 5 tahun di sana. Maka lahan kebun milik negara yang digarap mereka akan dibalik nama. Para transmigran akan mendapatkan tanah seluas 2 hektar dengan sertifikat resmi tentunya.

Bagaimana? Enak, kan? Kamu pusutri muda? Coba saja transmigrasi! Siapa tahu bisa mengubah status sosial dan ekonomi menjadi mapan. Transmigrasi?

0 comments:

Post a Comment